Tiktok Sindrom di Masyarakat

Saat ini siapa sih yang nggak kenal Aplikasi Tiktok. Tua muda, besar kecil, laki -laki perempuan, hampir semua lini kehidupan memanfaatkannya. Aplikasi ini dimanfaatkan beragam oleh penggunanya. Ada trend tertentu yang membuat orang tampil seragam dalam video mereka. Contohnya ada gerakan tubuh yang sama antara satu orang dalam satu video dengan orang lain yang membuat video juga, melalui Tiktok. Begitu pula pilihan musiknya, ada lagu atau musik tertentu yang hampir semua orang memakainya dan orang awam yang hanya tahu sekilas, bisa menebak kalau itu adalah tiktok.

Tiktok, seperti aplikasi lainnya yang juga kerap diunduh, dibuka dan ditunggu update terbarunya, mewarnai jelajah daring banyak orang. Inilah sindrom tiktok di kalangan masyarakat, hampir seluruh dunia.

Sindrom tiktok bisa dinilai positif, tapi  tidak jauh juga dari penilaian negatif. Kalau pada awal dikenalnya tiktok di Indonesia  sempat dibekukan, tapi kini kedudukannya makin kuat, bersaing dengan platform media sosial lainnya seperti instagram dan facebook.

Hal-hal yang dianggap sebagai nilai positif aplikasi Tiktok ini adalah :

  1. Kreativitas seseorang tersalurkan.Banyak ide, baik berupa tarian atau lagu yang bisa menginspirasi orang lain. 
  1. Media untuk terkenal.

Di zaman milenial, banyak orang memanfaatkan media sosial untuk menjadi terkenal. Asalkan bukan sekedar untuk.panjat sosial, maka upaya untuk terkenal melalui tiktok masih diidamkan oleh penggunanya.

  1. Membentuk rasa percaya diri.

Untuk tampil baik dan menginspirasi banyak orang, dibutuhkan rasa percaya diri yang tinggi. Video tiktok yang disenangi tentu saja didukung oleh pembuat atau pemerannya yang out of the box, tidak monoton dan selalu up to date isi videonya.

Untuk segi negatifnya antara lain adalah :

  1. Demi kesenangan semata

Aplikasi ini dinilai dominan hura-hura semata, menari dan bernyanyi yang bagi sebagian orang bukanlah hal yang baik, hanya untuk kesenangan sesaat, dan melupakan tugas utama dalam kehidupannya. 

  1. Pemborosan waktu. Pemanfaatan waktu yang seharusnya bisa untuk melakukan tugas lainnya, bisa terbengkalai hanya karena fokus menyelesaikan video tiktoknya. Waktu untuk ibadah, bisa saja lebih pendek, daripada persiapan hingga penyelesaian video tiktoknya.
  1. Merusak kehidupan sosial

Sebagai mahluk sosial, manusia itu selalu punya keinginan untuk kumpul dan bertemu orang lain. Bila dari aplikasi saja, sudah bisa mendapatkan dan berkenalan dengan orang baru sudah cukup, maka intensitas pertemuan tatap muka banyak diabaikan.

Suatu sindrom bukanlah untuk diperdebatkan tanpa solusi, karena sesuatu yang bergejolak di masyarakat membutuhkan satu visi yang mengarah pada hal yang bermanfaat dan meminimalisir bahkan menghilangkan hal yang merusak dan merugikan banyak orang.

Main tiktok yuk….

wisataliterasi/hadiyatitriono

0Shares

Tinggalkan Balasan