Sepucuk Surat (Part 3)

BINTANG JATUH

Kata jatuh sebaiknya jangan dibiarkan sendiri

Terdengar menyakitkan

Beri kata awalan atau akhiran

Diawali bintang akan menghiasi langitmu

Diakhiri cinta akan menghiasi duniamu

Jarum panjang menuju angka dua belas, menandakan beberapa detik lagi jam ding dong akan berbunyi. Sekilas tidak ada yang istimewa pada pergantian ini. Sekedar perubahan antara menit dan detik, malam dan pagi, kemarin dan hari ini. Jika mengandalkan indera manusia, hanya sebatas itu yang terjadi. Sementara di sudut lain bumi dan galaksi, perkara besar sedang menyelesaikan takdir Ilahi. Tetang bumi yang berotasi dalam waktu satu hari, atau tentang hidup dan mati seseorang dalam waktu hitungan jari.

3, 2,…

Gadis ini diam-diam menghitung mundur waktu, tanpa suara ataupun kata. Menentukan pada detik keberapa ingin mengakhiri hidup dan menjemput kematian. Seakan-akan semua keputusan berada di dalam genggamannya. Manusia, begitu congkaknya hingga terkadang lupa ia hidup untuk apa dan harus kembali kepada siapa.

Satu hitungan lagi, gadis ini sampai pada kematian yang ditunggu-tunggu. Kehendaknya boleh berkata seperti itu, tetapi jika Tuhan berkata bukan saatnya, kekuatan sebesar apapun tidak akan mampu mengalahkan. Bahkan jika semua kekuatan dari seluruh penjuru dunia menyatu, percuma. Cukup bagiNya berkata “Jadilah!” Maka jadilah sesuatu itu, maka binasalah segala yang dikehendaki.

Sekali lagi, Tuhan ingin menunjukkan kuasaNya. Mengasihani hamba yang tidak berdaya. Memberi kesempatan kedua untuk hamba yang berlumur dosa. Memberi jalan pintu taubat untuk hamba yang tersesat. Sungguh Tuhan Maha Baik, sangat baik.

Saat ingin menyelesaikan hitungan terakhirnya. Gadis ini telah bersiap akan menjatuhkan seluruh beban dan kesedihan kedalam sungai berarus deras itu. Namun tiba-tiba seseorang meraih tangan lalu menariknya dengan sangat kuat. Sampai-sampai tubuh gadis ini terjatuh ke trotoar jembatan. “Brukk” badannya yang mungil menimpa lengan pria yang juga ikut terjatuh bersamanya. Ternyata pembatas jembatan itu cukup tinggi, sehingga membuat keduanya meringis kesakitan.

Tidak ada kata sapa antara mereka. Hening, hanya bahasa hati yang berbicara. Sepasang insan yang tidak saling mengenal, sepasang mata yang kemudian saling pandang. Sama-sama saling menyimpan tanya yang belum bisa terlontar. Hanya tertegun layaknya scene film layar lebar.

Dalam hati gadis ini tersimpan kesal mendalam, marah, dan murka atas apa yang terjadi. Bisa-bisanya seseorang ingin menghentikan bahagianya. Siapa dia berani-beraninya mengusik raga yang penuh derita, raga yang rindu akan cinta, raga yang cacat dilukai dunia. Siapa dia, mencoba membuka luka yang harusnya telah dibalut kasa, mencoba menggarami luka yang bahkan masih berdarah. Begitu ingin mencampuri hidup seorang sampah.

Seketika gadis ini berdiri dan membuang muka dari pria di depannya. Keberadaannya yang tidak jauh dari tempat semula, membuat gadis ini kembali melangkah menaiki pembatas jembatan dengan cepat. Ia tidak ingin lagi membuang waktu untuk luka yang kini telah menghunusnya bagai samurai.

Lagi-lagi tangannya tertahan oleh pria asing yang berada dibelakangnya. Pria itu menggenggam tangannya dengan erat. Ia berontak. Pergelangannya memar. Badannya terlalu kecil untuk melawan tenaga pria itu. Bagaimanapun ia meronta, tetap saja pria ini tidak ingin mengalah.  Ia menangis tanpa air mata. Tidak ada lagi yang tersisa, semua telah habis terkuras. Jika bisa, gadis ini teramat ingin menangis darah.

“Lo siapa? Ha? Apa urusan lo sama gue?” Ia berteriak sembari meluapkan kekesalan terhadap pria itu. Memaki tepat diwajahnya tanpa ada rasa canggung sedikitpun.

“Oke, aku lepaskan kamu, tapi aku ingin kita sepakat” nada bicaranya teramat lembut dan tatapannya mampu menghipnotis gadis ini begitu cepat. Terasa sangat meyakinkan dan pembawaannya menenangkan.

“Lepas atau enggak?” dalam hatinnya menyimpan dendam. Ia mencoba menstabilkan nafasnya yang memburu.

“Kita harus sepakat dulu”

“Sepakat apa?”

“Aku ingin kita sepakat. Sebelum kamu melompat, tolong berikan nyawamu untukku, lalu akan aku berikan nyawaku untukmu. Setuju?”

“Gila lo, mana bisa. Enggak jelas nih orang”            

“Baiklah karena kamu tidak bisa, jadi aku juga tidak bisa melepasnya”

Pria ini datang tanpa aba-aba, dan dengan tiba-tiba ingin meminta nyawa. Sesuatu yang tidak masuk di akal. Perempuan mana yang tidak naik darah menghadapi orang semacam itu. Gadis ini tidak bisa berkutik, ia tidak dapat menyetujui kesepakatan dari pria itu. Tangannya tertahan, dan tidak ada pilihan lagi selain mengikuti kemana pria itu menyeretnya.

Mereka pergi dengan mobil sporty berwarna merah lengkap dengan modifikasi bagian bodynya. Nampaknya, pria ini berasal dari keluarga berada. Ia berpenampilan berkelas dengan sepatu Nike dan jaket hoodie hitam yang membaluti tubuh jangkungnya. Sedangkan gadis disampingnya berpenampilan kacau, matanya merah dan sembab, rambut panjangnya berantakan, pakaiannya lusuh dan melangkah tanpa alas kaki. Dua orang yang seharusnya tidak berjalan berdampingan.

Sepanjang pejalanan, gadis ini tidak membuka mulut untuk sekedar memulai pembicaraan. Kepalannya selalu tertunduk. Hanya kata pilu yang pantas menggambarkan keadaan dirinya. Keadaan yang teramat buruk untuk sekedar memperkenalkan diri. Beruntung, pria yang kini duduk sejajar dengan dirinya dapat memahami situasi hati gadis ini.

Diam-diam mata pria itu melirik dan mencuri pandang, mengamati dari ujung rambut sampai ujung kaki. Ia merasa iba. Pikirannya bertanya-tanya “Apakah hidup gadis ini sungguh berantakan seperti penampilannya saat ini? Apa alasan ia ingin mengakhiri hidup dengan bunuh diri? Tidak, aku tidak akan membiarkan ia jatuh dan hilang tidak berguna” pria ini hanya bertanya dan berargumen sendiri tanpa bisa mendapat jawaban. Ia paham, sangat paham. Luka tidak bisa sembuh dengan cara bertanya apa, bagaimana, dan mengapa. Luka tidak butuh tanya, luka juga tidak butuh jawab. Luka hanya butuh cinta dan waktu. Cinta untuk menyembuhkan, dan waktu untuk melupakan.

Tubuh gadis itu terdorong kedepan karena mendadak mobil yang ia tumpangi tiba-tiba berhenti. Ia menoleh dan melempar tatapan kesal kepada si pengendara mobil yang tidak lain adalah pria menyebalkan yang kini membawanya pergi entah kemana. Ia melihat sebuah gedung tidak berpenghuni di samping kiri. Gedung tua yang dipenuhi lukisan abstrak, semacam mural tapi tidak terselesaikan. Sedikit menyeramkan, tetapi tempat yang cocok untuk menyendiri.

Pria itu membukakan pintu mobil lalu memasangkan sepatu miliknya pada kaki gadis yang masih duduk terdiam dan membisu. Sepatunya longgar dan terlihat aneh karena ukuran kaki keduanya jauh berbeda. Namun, gadis itu tidak menolak dan tetap memakainya. Kemudian pria itu meraih tangan gadis yang bersamanya. Kali ini genggamannya tidak seerat saat berada di jembatan, genggaman yang lembut seperti isyarat kasih sayang.  Gadis itu membalas dengan tangan terbuka, dengan penerimaan dari hati. Tidak ada suara kala itu, semacam drama pantomim di pertunjukan seni. Sunyi, hanya ada beberapa gerakan dan tatapan. Seakan telah mengerti satu sama lain. Perkenalan singkat terjadi, perkenalan tanpa salam ataupun nama tanpa hai atau hello. Ya, sebaik itu hubungan mereka selanjutnya.

Gedung berlantai tiga di salah satu sudut kota Surabaya itu berdiri tanpa atap. Entah akan direncanakan menjadi apa, yang pasti kini gedung itu menjadi tujuan kedua remaja yang saling bergandengan tangan. Pria jangkung itu berada satu langkah di depan, kemudian disusul gadis bertubuh mungil tak berdaya dibelakangnya. Keduanya menaiki anak tangga menuju lantai paling atas. Sinar lampu pada setiap pojok langit-langit tidak cukup menerangi jalan keduanya. Secepat mungkin pria itu meraih gawai dari saku celana jeansnya untuk membantu menerangi jalan yang sedang dilewati.

“Disini tempat aku menyendiri. Dikala takdir tidak berpihak padaku. Ketika tidak ada satupun manusia yang paham akan bahasa luka. Bahasa yang sampai detik ini belum mampu kupelajari. Bagaimana bisa menuntut manusia lain mengerti, sedang untuk menjelaskannya lidah ini terasa keluh. Detik itu aku sadar, manusia manapun tidak akan mampu memahami lebih dari diri sendiri. Bukan, ini bukan salah mereka. Tidak ada yang salah dalam hal ini. Luka hanya butuh obat. Jika kau tidak temukan obat pada orang lain, kau harus mampu meramu obatmu sendiri.”

Ia memberi jeda dalam ceritanya, terdiam sejenak. Sedikit mengambil nafas dan mengehembuskannya dengan berat. Pria itu melirik gadis di sampingnya, hal yang sama dilakukan juga oleh gadis itu. Tatapan mereka bertemu.

“Kau tahu mengapa aku meminta nyawamu saat kau malah ingin membuangnya sia-sia? Kardiomiopati, penyakit jantung bawaan dari lahir yang berkali-kali mengajakku bolak-balik rumah sakit. Nyawaku selalu ingin berpisah dengan ragaku, terkadang aku lelah harus bersusah payah membuatnya tetap tinggal. Aku hanya ingin memiliki cinta dan aku ingin melihat orang yang aku cinta. Ya, setidaknya butuh waktu lebih lama untuk merekam setiap mereka yang hadir dalam hidupku.”

Gadis ini diam seribu bahasa, air matanya kembali menetes. Hatinya tersentuh akan kata yang pria itu ucapkan. Ia merasa menyesal, atas keputusan bodoh itu. Ia menyadari satu hal, bukan hanya ia yang terluka. Banyak orang diluar sana yang terjatuh lebih dalam, tetapi berhasil bangkit. Ya, beberapa orang berhasil bangkit dengan obat mereka sendiri. Lambat laun, gadis ini kembali punya harapan.

Ternyata tidak hanya mata pria itu yang mampu menghipnotis, kata-katanya juga telah mampu membuatnya jatuh. Kali ini bukan jatuh karena terluka, tetapi jatuh karena cinta.

“Hei, lihat langitnya. Cahaya yang indah itu, orang-orang sering menyebutnya bintang jatuh. Meski sebenarnya itu bukan bintang, tetapi kamu boleh sesekali berpura-pura percaya. Coba bayangkan, itu benar-benar bintang. Bintang Sirius, bintang yang paling terang. Bayangkan sirius jatuh di hadapanmu, ia datang membawakan cahaya untuk malammu yang kelabu”.

Lembut sifat pria itu sungguh mampu meluluhkan gadis ini. Ia kembali tersenyum setelah membayangkan Sirius benar-benar ada di depannya. Bahkan dalam bayangannya, Sirius sedang dekat dengannya, begitu nyata, dan berbicara.

“Aku tidak ingin tahu namamu, karena aku hanya akan memanggilmu dengan nama Sirius” ucap gadis ini dalam hatinya, sambil tersenyum melihat lensa pada kornea pria itu.

Mendadak gadis ini merubah semua yang ada dalam dirinya. Merubah pikiran, hati, dan juga gaya bicaranya. Hatinya menjadi baik sebaik hati Siriusnya, gaya bicaranya menjadi lembut selembut Sirius berbicara kepadanya. Ia benar-benar berubah. Saat ini ia sungguh percaya, sedahsyat itu cinta dapat meracuni jiwa.

Waktu begitu cepat berlalu, secepat takdir mengubah luka menjadi bahagia. Secepat cinta mengubah duka hanya dengan sentuhan senyuman.

wisataliterasi/Setia.w-

0Shares

Tinggalkan Balasan