Sepucuk Surat (Part 2)

Katanya, Aku Berbeda

Bagaimana rasanya menjadi jamu diantara madu?

Menjadi tersisih diantara terkasih?

Katakan padaku jika kamu terluka, akau tidak ingin sendiri”

     Rintik hujan jatuh diantara langkah gontai seorang gadis remaja 17 tahun. Telapak kaki mungilnya menapaki jalanan tanpa alas. Tumit putihnya memerah dan memar akibat menelusuri ratusan kilo meter trotoar. Ia masih setia tertunduk tanpa menghiraukan apapun dan siapapun. Sesekali bahunya menyenggol orang tak dikenal. Tidak sedikit pula yang meninggalkan ocehan tapi tak ia hiraukan. Hari telah berganti malam, rintik telah berganti badai. Semua orang sibuk membuka payung, beberapa orang menepi untuk sekedar berteduh. Tapi ia tidak, ia teguh pada sakitnya, ia kokoh pada kecewanya. Baginya, ribuan kata bijak dari mulut penyair termasyur pun tak lagi mampu menghentikan langkahnya. Bahkan, jika didatangkan 1000 orang sekelas Mario Teguh untuk berpidato layaknya 1000 episode acara motivasi, itu akan sangat percuma. Dalam hatinya hanya akan terucap “bullshit kau”.

Benar saja kata orang. Luka akan membuat yang baik terlihat buruk dan mungkin saja yang buruk akan terlihat baik. Hebat bukan? Tetapi apa kau tahu ada yang lebih dahsyat daripada itu? Sesuatu yang mampu mengubah duka terdalam sekalipun menjadi suka hanya dengan sentuhan senyuman. Ya, kebanyakan orang menyebutnya cinta. Cinta? Kata apa itu? Bahkan gadis belia ini tidak pernah benar-benar yakin akan adanya cinta. Ia tidak pernah memberi dan menerima cinta dalam hidupnya. Ia hanya beberapa kali mendengar tentang cinta, itupun hanya sekilas kisah. Kata sebagain orang cinta itu sangat indah, katanya juga cinta mampu mengubah racun menjadi madu, tangis menjadi haru. Saat mendengar kisah-kisah itu, bahkan gadis ini berdecak tidak percaya. Terlalu berlebihan menurutnya. Pernah juga ia mendengar kisah cinta Qois dan Laila. Qois yang tergila-gila pada Laila sering dipanggil Majnun yang artinya orang gila, dan akhirnya Qois benar-benar gila karena cinta Laila. Gadis ini lagi-lagi tak pernah percaya bahwa sedahsyat itu cinta dapat meracuni jiwa.

Namun, setelah tragedi kehilangan satu-satunya orang yang peduli padanya ia sadar bahwa selama ini ia telah memberi dan menerima cinta hanya pada satu orang. Sekali lagi ia garis bawahi, hanya pada satu orang, yaitu sosok laki-laki sedarah yang kini telah pergi meninggalkannya. Bahkan satu-satunya cinta yang baru ia sadari dan satu-satunya cinta yang baru ia miliki, namun kini telah sirna. Ia tidak lagi punya cinta dan semakin tak percaya lagi akan ada cinta setelah ini. Semua hanya akan ada benci, ya hanya benci. Tidak akan ada senyum terpatri, tidak akan lagi ada ucapan selamat pagi. Semua akan menjadi semakin hampa. Selama ini ternyata cinta begitu nyata didepan mata, namun kini pergi jauh ke alam berbeda. Ia terpukul, ia gila. Seperti kisah Qois kehilangan Laila.

Langkah gadis belia itu terhenti tepat dipertengahan salah satu jembatan di kota dengan ikon hiu dan buaya. Ingatannya mulai memutar kisah pahit yang selama ini ia alami. Matanya berkaca-kaca sambil lalu memandang hamparan sungai didepannya. Suara bising arus terdengar sangat keras digendang telinganya. Saat itupula ia mulai membayangkan betapa dalam dan membahayakan keadaan dibawah sana, betapa dingin dan menakutkan jika ia tenggelam bersama arus deras sungai itu. Tapi ia merasa lukanya lebih dalam, darah dalam hatinya lebih deras mengalir, garis takdir kehilangan cintanya lebih menyakitkan daripada tamparan arus sungai yang ada dalam bayangannya. Ia mulai berpikir, mungkin jika ia melompat, semua akan lebih baik. Keadaannya tidak akan seburuk saat ini, saat dia berpijak diatas jembatan ini dengan berjuta luka membaluri. Setidaknya, keputusan itu akan membawanya kembali pada satu-satunya orang yang begitu mencintai dan peduli. Dia memang gadis belia berumur 17 tahun dengan segala kenekatannya.

Pikirannya dipenuhi dengan luka, hatinya dipenuhi oleh rasa sakit tidak berkesudahan. Ia sangat ingin menyudahi semuanya dan merasa tidak ada lagi alasan baginya untuk hidup, bahkan untuk orang tuanya sekalipun. Mengingat tentang orang tua adalah hal tersakit kedua setelah kehilangan abangnya. Hidupnya tidak ada lagi celah untuk bahagia. Sebelum abangnya meninggal karena kecelakaan kereta api itu, ia masih memiliki senyum, masih bisa tertawa juga masih memiliki harapan. Setidaknya, ia tahu bahwa masih ada satu orang yang menginginkan keberadaannya, yang risau akan keadaannya, dan yang selalu berdo’a untuknya. Hal itu adalah satu-satunya alasan baginya untuk tetap bangun di setiap pagi, untuk tetap membuka jendela lalu melihat dunia. Alasan itu adalah abangnya, bukan siapa-siapa, bukan juga orangtuanya.

Dulu saat abangnya masih hidup dan menjaganya, setiap pagi di ruang makan akan selalu ada satu orang yang tersenyum dan mengucapkan selamat pagi lalu mengelus rambutnya seraya bertanya, sudah bertambah tinggikah kamu? Bagaimana tidurmu semalam? Adakah mimpi indah atau bermimpi Abangmu ini? Pertanyaan-pertanyaan konyol seperti itu selalu ia dapati setiap hari dan juga selalu saja tak ia hiraukan dan menganggap itu semua terlalu kekanak-kanakan. Tapi jauh di lubuk hatinya ia merasa bahagia karena ada yang mengajaknya bicara hanya untuk hal sekonyol itu. Begitu sederhana, namun sangat berharga.

Berbeda dengan orang tuanya yang hanya mengaggap ia sebagai aib yang harusnya tidak ada. Terdengar kejam bukan? Sudah dianggap aib, juga diharapkan tidak ada. Apa yang lebih sakit daripada itu? Bagi orang tuanya, tidak ada kata baik yang mampu menggambarkan dirinya. Mungkin karena mereka tidak pernah ingin melihat kebaikan dalam dirinya. Menurutnya ini salah mereka yang tidak pernah mereka sadari. Karena baginya, tidak ada sesuatu yang tidak memiliki sisi baik, tidak ada pula yang tidak memiliki sisi buruk. Dia pernah berandai jika suatu saat orang tuanya bisa melihat satu saja kebaikan dalam dirinya. Satu saja, itu sudah lebih dari cukup. Masih untung gadis ini sanggup bertahan sejauh ini. Masih untung dia bertelinga tebal tak hiraukan semua perkataan. Masih untung hatinya berpondasi baja. Masih untung ia ingin bernafas meski dalam keadaan sesak. Gadis ini masih beruntung.

Begitulah dia menjalani hari-harinya. Berkali-kali sakit, berkali-kali menjadi sampah. Seorang gadis yang tak diinginkan, namun dipaksa tetap bertahan. Dipaksa bertahan bukan karena dibutuhkan, tapi karena terlanjur dilahirkan. Seutuhnya dia paham bahwa tidak diinginkan, juga sangat sadar jika dia tak pernah berharga. Dia hanya berpikir bahwa, mereka adalah sama-sama manusia. Semua berhak atas salah juga berhak atas benar. Dalam hal ini dia sadar, kesalahan ada pada dirinya, namun tidak sepenuhnya. Dia masih memiliki hak atas kebenaran. Begitupun pada orangtuanya, masih memiliki hak atas kesalahan. Karena menurutnya, sejatinya tidak ada yang benar-benar kebenaran dan tidak ada yang benar-benar kesalahan. Itu karena mereka hanyalah manusia, bukan Tuhan. Dan pemilik sepenuhnya kebenaran hanya pada-Nya, bukan manusia.

Pemikiran-pemikian itu ia dapati dari semua hal yang ia alami. Ia sering merenung dan memikirkan hidupnya dan segala hal yang terjadi setiap harinya. Mengapa hanya ia yang berbeda, mengapa ia tidak seperti yang lain. Punya banyak orang yang menyayanginya, mencintai, menghargai, mengaggap dan membuatnya berharga. Atau sebenarnya dirinya sendirilah yang membuatnya berbeda dan menolak untuk sama. Berkali-kali pertanyaan semacam itu menghampiri dan cukup mengganggu pikiran dan menguras tenaga. Jika sudah seperti ini, biasanya sesekali ia perlu menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan secara perlahan agar ia tetep bersikap bodoh amat.  Tetapi tidak jarang pula, pertanyaan itu justru bercabang membentuk persoalan baru yang semakin membuatnya tak berdaya. Misalnya saat ia ingin menenangkan diri dan memejamkan matanya, justru menghayal tentang di dunia ini hanya dia yang tak berharga, bahkan menurutnya sampahpun terlihat lebih berharga. Bagaimana tidak, sampah dicari pemulung untuk menyambung hidupnya sedangkan dirinya tak lebih berharga daripada itu. Tak ada orang yang mengaggapnya ada dan berguna. Jika sampah tercipta untuk menyambung hidup seorang pemulung, sedang ia tercipta hanya memperumit hidup orang-orang disekitarnya. Jika sampah lebih berharga lalu sebutan apalagi yang pantas untuknya? Pertanyaan yang bahkan sampai detik ini tidak pernah ia temukan jawabannya. Sering membandingkan diri dengan sesuatu mungkin telah menjadi hobinya sejak beberapa tahun terakhir. Seakan menjadi bakat baru dalam hidupnya. Lagi-lagi ia berpikir, bahkan sesuatu yang ia anggap bakatpun tidak pantas disebut bakat dan betapa tidak bergunanya itu. Terkadang ia menertawakan dirinya sendiri. Menertawakan bagaimana dunia menjadikannya tidak berguna.

Pernah suatu ketika saat ia membuka pintu rumah, terdapat foto keluarga yang kurang lebih ukurannya 2×1 meter terpajang diruang tamu. Ukuran foto yang memang biasa digunakan untuk foto keluarga. Sekilas nampak biasa saja dan masih terlihat seperti foto keluarga pada umumnya. Mungkin sebagian orang akan sangat bahagia saat melihat foto keluarga, karena hanya ada senyum yang terpancar di setiap gambarnya. Tapi bagi gadis belia ini, foto keluarga itu adalah luka. Tidak ada senyum bahagia saat ia melihatnya. Sakit, itu yang lebih terasa. Saat ayah, ibu, dan kakaknya berpakaian rapi, berseragam, dengan wajah berseri tak lupa tersenyum pada kamera. Momen yang indah dan langka. Sempurna sudah sebagai foto keluarga. Tapi sebentar, bagaimana bisa disebut foto keluarga jika dirinya saja tidak ada? Bagaimana bisa mereka tersenyum bahagia padanya, sedang ia meneteskan air mata? Ia tidak percaya, ia hancur. Dunia begitu mengkhiatinya sedalam ini. Tidak ada yang berpihak padanya, tidak ada. Terkadang ia merasa cemburu, saat orang tuanya selalu membanggakan abangnya seakan-akan anak meraka hanya dia. Sempat terlintas jika saja ia bisa bertukar posisi dengan abangnya, mungkin akan sangat menyenangkan. Menjadi anak kebanggaan, hidup berharga, dan dicintai. Tapi tidak, semua angannya ia urungkan, karena abangnya terlalu baik dan pantas mendapatkan itu semua. Ia tidak akan membiarkan abangnya menjadi sama sepertinya, itu terlalu sakit. Hati lembutnya tidak boleh dan tidak akan ia biarkan merasakan sakit sedalam sakitnya. Ia menyayanginya dan ini cintanya.

Semua luka itu mengantarkan ia pada tempat ini, dalam gelap ini, dan pada keputusasaan ini. Setelah berberapa menit mengingat duka kemarin dan luka dalam hidupnya, suara arus sungai itu kembali mengajaknya untuk tidak berlama-lama lagi berdiri diatas jembatan tua ini. Seakan bernada dan membuatnya ingin menari bersama. Layaknya suara piano dari seorang pianis mahir ternama.

Ia mulai melangkah mendekati pembatas jembatan, menaiki satu tangga besi dengan rasa yakin, pembawaannya lebih tenang daripada sebelumnya namun masih dengan air mata mengalir. Ia membentangkan tangan, merasakan pelukan angin malam kota Surabaya. Kemudian memejamkan mata dan membayangkan wajah orang yang ia cinta. Cinta yang baru ia sadari, abangnya.

= = = = = =

Dia manusia,

Dia masih berhati, masih bernyawa

Dia bukan patung yang tak punya itu semua

Jika mereka terlalu mudah untuk tidak menganggap dia manusia

Mudah pula baginya untuk tidak lagi menjadi manusia

wisataliterasi/setia.w-

0Shares

Tinggalkan Balasan