Sepertiga Malam

Sepertiga Malam

Kala langit bertabur bintang, tapi kesunyian menyelimuti malam. 

Netra enggan terbuka. 

Raga tenggelam dalam kehangatan selubung 

Namun kalbu berontak

Beranjak melawan dingin angin malam

Di pintu samping pelataran rumah Sumur tua terlihat begitu tenang

Derit  putaran timba memecah kesunyian

Kuangkat air dari dalamnya.

Ces … Air terasa sedingin es menerpa wajah

Netra lelahku segar terbelalak.

Kubasahi telapak tangan lalu berkumur Aku berwudhu

Ringan terasa seluruh badan

Derit timba meningkahi dersik melintas dikuduk

Malam ini ku ingin menemui yang teristimewa, yang selalu mengisi relung rindu

Di kala sedih ataupun senang.

Sedikit tersenyum di depan kaca

Memantaskan diri dengan setetes wewangian.

Hamba datang dengan segudang dosa, setumpuk khilaf.

Menyungkurkan kaki, mencium permadani tipis.

Menumpahkan bulir-bulir bening kerinduan.

Memohon kemurahan-Mu untuk sejumput ampunan.

Mengiba kebesaran-Mu dengan harapan menjadi suci kembali.

Aku hanya butiran debu 

Berterbangan tiada arah

Mengotori setiap jengkal yang terlewat

Seiring hembusan angin.

Aku hanyalah setitik noda

Menempel di selembar kain putih Merusak sebuah kesucian

Aku hanyalah seorang papa

Tinggal sementara tanpa tahta berlian 

Apalah daya ku tanpa kebesaranMu

Maafkan atas segala kefakiran ini Rabbi

Hamba-Mu datang dengan seribu permintaan

Namun ditemani sedikit rasa syukur

Ketika puncak telah terlampaui 

hanya satu yang tertinggal

Sepertiga malam bersama-Mu

Dalam elusan dan nikmat kasih-Mu

wisataliterasi/heni ajah

0Shares

Tinggalkan Balasan