Renjana Terhempas Part 3 Berita Duka

Kucoba menyusun rencana untuk KKN nanti. Besok semua peserta KKN di kelompokku akan rapat dan semua peserta diharapkan menyampaikan ide dan saran untuk program kerja di lapangan nanti.

Selembar kertas ku corat-coret sesuai apa yang ada dalam pikiran. Tanpa sadar ku tertidur di meja belajar hingga menjelang subuh.

Saat terbangun, terdengar suara Ibu membuka pintu kamarnya.

“Ibu pasti baru bangun juga,” batinku.

Kulihat meja belajar yang berantakan, dan beberapa lembar kertas berserakan di lantai. Kubereskan sejenak semuanya sebelum keluar kamar.

Sholat subuh sudah, sedikit membantu ibu di dapur juga sudah kulakukan. Kulihat jarum jam menunjukkan pukul tujuh pagi, dan terlihat Bapak sudah selesai senam ringan di teras.

“Selamat pagi Bapak. Wah, biarpun sudah pensiun tetap sibuk nih. Kalah anak muda sekarang, ya Pak.” Aku mencoba menggoda bapak.

“Kamu ini bisa saja. Bapak kan baru satu bulan merasakan pensiun, ritme kerja masih membekas dan tenaga juga masih ada. Sekarang Bapak mau tahu beritamu hari ini.” Bapak menyuruhku duduk.

“Bapak sudah tahu kan kalau Ranti akan KKN.” Bapak mengangguk.

Aku pun melanjutkan pembicaraan.

“Hari ini ada rapat kelompok Ranti, sekitar jam 9 di Kampus Pusat, membahas rencana kerja nanti di lokasi.”

“Hmm, lokasinya sudah kamu datangi?” tanya Bapak

“Belum. Nanti setelah program kerja tersusun, kami akan ke lokasi, sekaligus menemui Kepala Desanya untuk berkenalan dahulu sebelum terjun resmi.

Sekarang Ranti mau siap-siap dulu, Pak. Lagipula masih bau nih, belum mandi.” Aku segera beranjak ke dalam dan kudengar bapak mengingatkan untuk sarapan dulu sebelum berangkat.

—–

Ah ya, tadi di WA grup, ketua menyarankan untuk kumpul dulu di Kopma. Ngapain di sini, batinku.

Celingukan kucari teman-teman baruku di dalam. Sejak kuliah sampai mendekati akhir, baru sekali ini aku masuk gedung Koperasi Mahasiswa. Duh kebangetan banget deh.

Salah seorang yang kuingat, melambaikan tangannya ke arahku. Iya, dia si Raditya, wakil ketua kelompok. Segera kuhampiri mereka. 

“Hai selamat datang di Kopma. Semua kebutuhan kuliah dan sebagian kuliner yang murmer ada di sini. Kelihatan kamu nggak pernah mampir ke sini ya.” Goda Raka, ketua kelompokku.

Aku hanya mengangguk tanpa debat, karena memang itu kenyataannya.

“Kamu pengurus di sini?” tanyaku.

“Bukan aku, tapi dia.” Sambil menunjuk Raditya yang asyik menulis.

“Oh pantas….”Jawabku sekenanya.

“Kenapa emangnya,” Raka menaikkan alisnya.

Saat kuingin menjawab, terdengar dering handphone. Kulihat nomor telepon yang masuk dari rumah.

“Maaf, sebentar aku angkat telepon dari rumah ya. Siapa tahu penting.”

Aku beringsut dari tempat duduk, dan agak menjauh dari mereka.

“Assalamualaikum. Ada apa Bu. Ini Ranti sedang rapat.” 

“Waalaikumsalam. Itu Sagung, Ran.” Ibu menjawab dengan nada yang aneh dan terisak.

“Kenapa Sagung, Bu.” Aku mulai khawatir.

“Dia meninggal barusan. Menurut kabar dari Bu Ningsih, dia bunuh diri.”

Terdengar tangisan ibu pecah. Aku yang terkejut bukan kepalang, otomatis  terisak. Dia sahabatku dan juga tetanggaku. 

“Sekarang Ibu mau ke rumahnya dengan beberapa ibu PKK. Usahakan kamu cepat pulang ya dan temui dia untuk terakhir kalinya. Katanya jenazah akan dibawa ke kampung dan diupacarai di sana.”

“Iya Bu, Ranti akan izin dengan Ketua Kelompoknya.”

Segera kututup pembicaraan dengan ibu, kuhapus air mata yang masih menetes di sudut netra, dan kembali ke meja rapat.

Ternyata Radit memperhatikan tingkahku sewaktu menelpon tadi.

“Sudahlah Ranti, lebih baik kamu pulang saja. Kami akan menyampaikan hasil rapat nanti.” 

“Terima kasih teman, maaf kalau hari ini aku izin dulu. Ini usulan dariku.” Kuserahkan lembaran yang telah kukerjakan semalam, lalu pamit pulang.

Kusempatkan menelpon teman satu prodi yang juga akrab dengan Sagung. Kebetulan hanya Judith yang bisa ikut bersamaku.

Kami bergegas pulang

wisataliterasi/hadiyatitriono

0Shares

Tinggalkan Balasan