Lorong Kelam

Lorong Kelam

Jalanan sepi. Dersik di malam yang dingin menambah kesan mencekam. Bertahun-tahun aku melewati jalan ini, dan tak pernah setakut ini. Kuhimpun keberanian untuk terus melangkah, sendirian.

Kresek … kresek….. Langkahku menyeret dedaunan kering di tanah. Pepohonan rimbun sepanjang perjalanan menuju rumahku, tampak bagai lorong yang gelap di malam hari. Lampu jalanan temaram sepanjang jalan, mungkin karena cahayanya tertutup dedaunan rimbun di atas pohon.

“Ah semua akan baik-baik saja seperti hari biasa. Inikan wilayah yang sudah kujalani bertahun-tahun, sepanjang umurku.” Hatiku berkata menenangkan. 

Terbesit sedikit penyesalan, kenapa tadi kutampik penawaran Purnawan untuk mengantar pulang. Rute angkot pun sudah tak ada, lewat jam sembilan malam. Kini, harus kulalui sendirian setelah turun dari angkot di ujung pertigaan jalan itu. 

Aku masih berpikir positif, jalanan bagai lorong ini adalah jalan pendek yang bisa kulalui segera. Sesekali ada satu dua kendaraan yang lewat, rata-rata sepeda motor. Jadi, kuteruskan langkahku, tak penting situasi macam apa malam ini.

Hati ini mulai tenang, saat kulihat cahaya lampu mulai terang, tanda mendekati  area rumah penduduk. Namun tiba-tiba, badanku tertarik ke belakang dan sebuah tangan membekap mulutku.

“Argh…argh… Aku meronta-ronta, berusaha melepaskan diri dari dekapan kasar orang asing itu.

Tubuhku dibawanya kebalik pohon, menjauh dari jalanan. Tenagaku kalah kuat dan lemas. Tubuhku dihempaskannya ke tanah hingga tertelungkup, dan dia ikat kedua tanganku. Saat itu, kudengar dia mengatakan sesuatu tentang aku. 

“Aku benci kamu Marni, tapi aku juga mencintaimu. Kenapa tak kau tangkap sinyal-sinyal cintaku. Malam ini kau harus jadi milikku dan esok tak boleh ada yang memilikimu.”

Lalu dibaliknya tubuhku, dan tubuh yang tak berdaya ini masih bisa melihat dalam keremangan malam, siapa dia.

“Purnawan!” Itulah kata terakhir ku, sebelum dia lakukan hal brutal pada tubuhku. 

wisataliterasi/hadiyatitriono

0Shares

Tinggalkan Balasan