Di Bawah Sinar Matahari

Di Bawah Sinar Matahari

Ini terjadi saat roda kehidupan berjalan normal.

Sinar mentari perlahan mulai terlihat dengan semburat merah di ufuk Timur. Suara kokok ayam masih terdengar lamat-lamat di kejauhan. Sang jago belum lelah berkokok sejak dini hari sebelum sang mentari tersenyum pada bumi.

Sebagian mahluk di bumi telah beraktivitas, dan sebagian lainnya mungkin masih terlena di alam mimpi. Orang-orang memulai hari dengan bersyukur dan bersujud di hadapan-Nya, karena telah diberi kesempatan kembali untuk menjalani kehidupan.

Sinar matahari terus merangkak perlahan ke atas. Sinar yang teduh dan udara sejuk bersama embun pagi. Hhmm, segar…. Detik demi detik, menit pun terus berjalan, sinarnya makin hangat.

Orang-orang mulai sibuk bergerak. Anak-anak yang ceria dan bergegas ke sekolah, laki-laki dan perempuan pekerja buru-buru ke kantor, pedagang yang sibuk melayani pembeli, juga para ibu sibuk dengan belanjaannya di pasar. Hilir mudik orang berjalan, begitu juga laju kendaraan di jalan.

Waktu mulai menunjukkan separuh perjalanan, sinar matahari semakin menyengat karena teriknya. Orang-orang yang harus berada di jalanan dan terpapar sinarnya, melindungi diri masing-masing dengan pelindung diri. Mulai dari krim pelindung sinar, kacamata, topi, payung, atau berteduh di pohon rindang.
Panas yang terik disambut gembira bagi yang sedang menjemur cucian, petani yang menjemur gabahnya, penjual krupuk, pembuat ikan asin, jasa laundry, pedagang es, hingga pembuat kain corak. Semua tertolong karena adanya sinar matahari yang menyengat dan tentu saja gratis.
Inilah kasih sayang dan limpahan rahmat dari Allah pada umat-Nya.

Sejak terbitnya hingga terik menyengat, dan sinarnya meredup di ujung senja, kita bergerak dan mengisi kehidupan di bumi. Di bawah sinar matahari, kehidupan penuh warna terus berjalan, hingga Allah mencukupkannya kelak.

wisataliterasi/hadiyatitriono

0Shares

Tinggalkan Balasan