Ayah Anakku

Ayah Anakku

Kusibak tirai jendela kamar. Sinar mentari nan hangat menerpa si mungil yang menggeliat seketika karena cahayanya.

Kudekati jagoan kecilku yang masih terlelap, merasakan nikmatnya dunia baru. Baru kemarin sore ia datang disini, di kamar kontrakan tempat aku dan suamiku selama ini tinggal.

Jam dinding masih menunjukkan pukul tujuh. Semua persiapan untuk suamiku kerja sudah kutaruh di meja kecil, dan ku lihat dia sudah siap untuk berangkat kerja. 

“Selamat pagi jagoan bapak.” Dia mendekati anaknya yang masih terlelap dan menjawil pipinya. 

“Nanti akan bapak ajari kamu jadi lelaki sejati.” katanya lagi.

“Aduh Mas, dia masih bobo jangan diganggu. Ayo sarapan dulu, bekal untuk bekerja juga sudah Asih siapkan,” kataku sambil menarik tangannya untuk segera makan.

Aku menemaninya sarapan, supaya ada asupan untuk menyusui jagoan nanti. Baru saja menyuap beberapa sendok, sebuah ketukan memecah kesunyian. Kupikir tetangga kost yang ingin meminjam sesuatu.

Sambil menggerutu, “Siapa sih pagi-pagi kok sudah bertamu.”

Ku buka pintu kamar, ternganga aku menatap dua orang tamu yang datang. 

“Po…li si?” Setengah tergagap aku mengucap.

“Selamat pagi Bu. Suami Ibu ada?” kata mereka sambil berusaha melihat ke dalam.

“Saya Pak,” seru suamiku, sebelum aku menjawab pertanyaan petugas tadi. 

“Mari Bapak ikut kami ke kantor, untuk menjelaskan kronologi pencurian di tempat kerja Bapak, berdasarkan laporan rekan kerja Bapak semalam.” Kedua petugas itu menunjukkan surat tugas mereka.

“MashaAllah, ada apa ini. Suami saya mencuri apa Pak Polisi.” Aku tak percaya dengan kata-kata polisi itu.

“Ayo Mas, kamu kenapa. Apakah biaya melahirkan itu kamu dapatkan dengan cara begitu?” Kucecar suamiku dengan pertanyaan yang terlintas dengan cepat.

“Tenanglah Dik. Kamu di rumah dulu ya, biar Mas ikut mereka.” Suamiku berkata dengan pelan seiring tangannya diborgol oleh para polisi itu.

Aku menangis dan berteriak saat suamiku masuk ke mobil patroli. Mata tetangga pun ikut menatap heran dan berbisik. Hingga suamiku hilang dari pandangan, aku masih terus berteriak dan menangis.

Tangisan si jagoan dari dalam kamar menyadarkanku. Segera ku berlari ke dalam kamar, dan kupeluk anak kami.

Kutumpahkan kesedihan dengannya yang belum mengerti apa-apa.

Ibu pemilik kos datang menemuiku yang masih belum percaya akan kejadian itu. Dia ikut mengurus bayiku, karena aku masih terus menangis dan tak tahu harus berbuat apa.

“Bu Asih yang sabar ya. Ini dedek bayi disusui dulu, kasihan dari tadi menangis terus.” Ibu Tami, pemilik kos berusaha menyerahkan si jagoan padaku.

Perlahan kuambil dan kususui. Bu Tami masih menemani tanpa bicara apa-apa. Mungkin tak ingin jiwaku makin terguncang. 

Hari itu kulewati dengan beribu pertanyaan. Kuhubungi adik untuk mencari tahu kabar suamiku. Tetangga yang baik hati pun ikut membantu mencari berita.

Kata mereka, suamiku masih diperiksa bersama beberapa orang teman kerjanya. 

Waktu pun beranjak senja, kabar terbaru masih belum ku dapat. Untunglah si kecil tidak rewel, walau udara hari ini terasa panas. 

Tak ada aktivitas yang kulakukan seharian ini, nafsu makan pun hilang. Bu Tami yang baik hati membawakan makanan untukku dan membujuk untuk makan dengan alasan kasihan si kecil kalau ibunya sakit.

Saat kutimang jagoan yang tampak mengantuk dan diri ini juga merasa lelah, tiba-tiba terdengar suara yang sangat kukenal.

“Assalamualaikum. Asih, ini aku.”

Segera aku berlari ke arah pintu, dan suamiku berdiri di sana. Dipeluknya kami berdua. Aku sesegukan di dadanya. 

“Alhamdulillah ya Allah. Kau kembalikan suamiku.” 

Kami masuk ke kamar. Perlahan kutanya apa yang terjadi.

“Ini hanya salah paham saja Asih, bagaimanapun miskinnya kita, tak kan terlintas pikiran untuk berbuat kotor.” Suami hanya berkata seperti itu.

Aku hanya memandang segi positifnya saja. Bila ia bersalah, maka pasti ia tidak akan pulang malam ini. Mungkin hari-hari panjangnya akan dilewati jauh di sana, bukan di tengah-tengah kami.

“Sudahlah Asih. Aku akan selalu ada untuk kalian. Malam ini serasa malam pertama bersama jagoanku kembali. Biar aku saja yang menemaninya tidur, setelah aku selesai salat.”

Saat mereka terlelap, kupandangi wajah teduh suamiku. Hilang lelah ini, di terpa bahagia. Tak salah kumiliki dirimu dan jadi imam keluarga.

wisataliterasi/hadiyatitriono

0Shares

Tinggalkan Balasan