Allah Masih Cukupkan Rezeki Kita

Allah Masih Cukupkan Rezeki Kita

Sepenggal kisah saat puasa Ramadan hari pertama.

Menanti kedatangan bulan suci Ramadan setiap tahunnya selalu penuh suka cita. Hari pertama itu biasanya persiapannya banyak. Mulai dari mau tarawih dimana, sahur inginnya pakai ini pakai itu, nanti bukanya juga harus punya ini itu. Heboh. Ya itu karena permintaan anak-anak.

Tahun ini, tahun 2020, masa puasa Ramadan datang saat wabah penyakit melanda. Corona dengan Covid-19 mampu memorakporandakan sendi kehidupan. Banyak kaum pekerja yang dirumahkan tanpa upah, atau tetap bekerja tapi belum juga dibayar gajinya.

Inilah yang kami alami. Kepala keluarga kami, suamiku, ayah anakku, berangkat kerja setiap hari di tengah pandemi, sampai detik memasuki puasa Ramadan belum menerima gajinya sepeserpun. Kami, aku dan anak-anak dengan spontan bertanya, “Kenapa?”

Alasan pemilik perusahaan tak pernah jelas dan mengabaikan chat pegawai yang masuk ke gawainya. Bagaimana pekerja bisa berdialog tatap muka, kalau sang pemilik tidak berada di kota yang sama, bahkan harus menyeberangi lautan untuk menemuinya. Selain kondisi perusahaan yang memang tidak menghasilkan selama pandemi, juga karena anggota keluarga pemilik terpapar Covid-19 dan menjalani karantina. 

Pernah kubaca berita seseorang yang curhat mahalnya biaya selama karantina, mencapai 500 juta lebih. MashaAllah. Bila benar begitu adanya, tentu berat menjalaninya bahkan bagi orang yang mampu sekalipun saat bisnis tidak menghasilkan apa-apa.

Suami meminta kami bersabar dan tetap bersyukur masih diberi kesempatan menikmati bulan suci Ramadan.

“Allah tidak akan membebani umat-Nya diluar kemampuan kita sebagai hamba-Nya.”

“Jangan khawatir akan rezeki dari Allah. Datangnya bisa dari mana saja. Puasa pun bukan hanya soal makan dan minum, tapi juga ketaatan kita beribadah, menjalankan perintah-Nya serta menjauhi larangan-Nya.”

Anak-anak mendapat pencerahan dari ayahnya, saat tarawih berjamaah di rumah selesai dan doa niat puasa diucapkan.

“Ya, anak-anak Ayah kan sudah besar, pasti tahu apa saja yang dilarang selama menjalani puasa selain tidak makan dan minum. Kalian juga tahu ibadah apa yang patut ditambah selama puasa ini. Salah satunya perbanyak baca Al quran. Selagi tetap di rumah saja, lakukan semua dengan baik. InshaAllah kelak setelah Ramadan berlalu akan menjadi kebiasaan yang rutin dilakukan.”

Kami melewati malam dan terbangun sahur untuk pertamakalinya hampir bersamaan. Saat kutengok persediaan beras masih cukup untuk selama bulan Ramadan ini.

Si bungsu menemaniku memasak. Lauk yang kusiapkan  cukup tempe dan telur dadar di hari pertama puasa itu. Ada seikat daun kelor pemberian tetangga yang kubuat sayur bening.

Alhamdulillah. Barakallahu. Terima kasih atas nikmat rezeki yang Kau limpahkan ya Allah. Semoga puasa ini kami jalani dengan penuh takwa dan Lillahi ta’ala.

wisataliterasi/hadiyatitriono

0Shares

Tinggalkan Balasan